Minggu, 22 Mei 2011

Salah satu dampak buruknya penataan kota

Salah satu dampak buruknya penataan kota adalah munculnya kawasan yang menjadi langganan banjir.Di Kota Palembang,kawasan Sekip Jaya disebut sebagai salah satu kawasan yang paling rawan banjir. Hampir setiap hujan tiba kawasan ini selalu tergenang. Banjir yang sering terjadi di kawasan Sekip Jaya dan sekitarnya membuat masyarakat yang tinggal di tempat tersebut melakukan berbagai cara agar supaya rumahnya tidak dimasuki air. Salah satunya dengan meninggikan lantai dasar rumahnya,ada yang dengan mengecor menggunakan semen atau membuat rumah panggung.

Di kawasan Jalan Bay Salim,Kelurahan Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning, misalnya.Setiap hujan turun, langsung terjadi banjir,bukan saja membanjiri jalan raya, melainkan juga naik hingga rumah warga.Salah satu cara mengatasinya,warga terpaksa meninggikan lantai atau teras rumahnya.

Ema,35 misalnya, mengambil langkah dengan meninggikan lantai di teras rumahnya dengan ditambah semen,“Ini sekarang sudah dicor semen hingga tinggi 10 cm,dulunya sebelum ditinggikan kalau hujan turun langsung masuk ke rumah. Kalau banjir susah,air merusak semua isi barang di rumah,misalnya kasur, lemari,”kata ibu tiga anak ini yang sudah puluhan tahun tinggal di Sekip Jaya.

Pada saat awal tinggal di kawasan ini,dia mengaku kediamannya jarang kebanjiran.Banjir hanya terjadi saat air sungai meluap, seperti yang terjadi pada 2007. “Dulu banjir itu biasa karena air sungai pasang,tapi sekarang hujan sedikit saja sudah banjir,”ungkapnya. Pernyataan Ema ini dikuatkan Ahmad.

Warga yang mengaku telah tinggal di kawasan Jalan Bay Salim sejak 1939 itu mengatakan, lingkungan tempat tinggalnya dahulu bukanlah kawasan banjir.“Genangan air sih ada, tetapi tidak separah sekarang, dulu belum ada rumah-rumah besar maupun ruko-ruko hanya beberapa rumah, termasuk rumah kita,masih hutan belantara,”bebernya.

Dulu terjadi banjir karena ada perubahan air sungai yang pasang.Namun,saat ini hanya hujan sedikit,sudah banjir. Sekarang sudah banyak rumah besar dan ruko yang dibangun tinggi-tinggi. “Sudah banyak bangunan yang dibangun tinggi dan menimbun, sehingga air mengalir ke jalan-jalan dan rumah yang datarannya rendah.

Kalau banjir datang,air masuk ke rumah bisa setinggi 1 meter,”jelasnya. Menurut pria yang sudah berumur ini,kalau sudah banjir,air bisa kering sampai tiga hari.Banjirdatang, barang-barangdirumah diletakkan di atas,dengan memasang papan atau membuat jembatan di rumah dan tidur harus di meja.

“Tahun 2000 saya langsung meninggikan lantai rumah setinggi 1 meter, pertama kali ditinggikan sedikit,tetapi air masih masuk,lalu ditinggikan lagi hingga 1meter.Sekarang sudah ditinggikan saat hujan turun air tidak masuk lagi ke rumah,” paparnya. Demikian catatan online Silampeng yang berjudul Salah satu dampak buruknya penataan kota.

Selasa, 04 Januari 2011

Air mata Prof Oetarjo

IDwebhost.com Trend Hosting Indonesia -> Air mata Prof Oetarjo yang merupakan sejarawan dan guru besar UGM, jatuh tak terelakkan ketika mengingat ucapan Sultan Hamengku Buwono (HB) IX kepada Ir Soekarno saat memberikan kata perpisahan kembalinya Jakarta menjadi pusat pemerintahan pada 1949.

"Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi. Silakan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta," tutur Oetarjo menirukan ungkapan HB IX sambil mengeluarkan cek senilai 6 juta gulden dengan berurai air mata di hadapan Ir Soekarno dan menteri-menterinya.

Tidak hanya Sultan HB IX yang menangis, katanya. Waktu itu pun para menteri kabinet Soekarno ikut menangis. Momen itulah yang membuat dirinya selalu tidak kuasa untuk meneteskan air mata ketika mengingatnya.

"HB IX adalah sosok yang all out dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan republik ini," ujarnya lirih menahan tangis di depan wartawan, Selasa (4/1/2011).

"Coba Anda bayangkan. Seorang Raja Jawa yang berwibawa mengumumkan dirinya tidak punya apa-apa di hadapan umum," ujarnya.

Menurut Oetarjo, kala itu memang Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menopang keuangan RI yang pindah ke Yogyakarta. Hampir semua biaya operasional untuk menjalankan roda pemerintahan, misalnya kesehatan, pendidikan, militer, dan pegawai-pegawai RI, saat itu dibiayai Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Oetarjo menambahkan, Sultan dan rakyat Yogyakarta memiliki andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. "Sultan dan rakyat bersatu tanpa pamrih memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan," ujarnya sambil menyeka air mata.